Suasana Pengembalian Dana Pendidikan
Oleh Veronika Koman Kepada Negara RI.
JAKARTA LAWAN MALAS.COM Jakarta/Jayapura, 16 September 2020) Tim Solidaritas Ebamukai untuk Veronica Koman, yang di Jakarta diwakili oleh eks tapol Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni didampingi pengacara HAM Michael Himan, hari ini telah mengembalikan uang beasiswa Veronica Koman kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) hingga lunas.
Selain itu, kami juga mengembalikan Bendera Merah Putih, serta secara simbolis mengembalikan Status Otonomi Khusus Papua berupa salinan Undang-undang Otsus, dan secara simbolis mengembalikan Dana Otonomi Khusus Papua berupa uang receh sebesar satu juta rupiah kepada pemerintah Indonesia.
Kami melayangkan permohonan audiensi singkat dengan LPDP sejak dua hari lalu, namun belum ditanggapi hingga hari ini. Kantor LPDP tutup total hari ini sehingga akhirnya kami harus bergeser ke kantor Kemenkeu. Aparat yang berjaga menolak memfasilitasi kami dengan beralasan bahwa semua staf Kemenkeu sudah pulang.
Kami akhirnya menyerahkan pengembalian beasiswa, bendera, status otsus, dan dana otsus ke Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan untuk dititipkan kepada Pak Mahfud MD karena beliau sudah menanyakan perihal beasiswa Veronica Koman sejak tahun lalu.
Begitu mendengar kabar bahwa pemerintah Indonesia menghukum Veronica Koman sejumlah IDR 773.876.918 untuk memaksanya kembali ke Indonesia, rakyat Papua dengan segera menggalang dana baik dengan mendirikan posko, mengumpulkan uang di pasar dan perempatan jalan, maupun secara online. Upaya penggalangan dana ini pernah dibubarkan paksa sebanyak dua kali oleh kepolisian yakni di Nabire dan Jayapura.
Mama Yosepha Alomang, tokoh Amungme pemilik hak ulayat atas wilayah tambang PT Freeport Indonesia, pemenang Yap Thiam Hien Award 1999:
“Saya, Mama Yosepha Alomang, menyampaikan bahwa selama 57 tahun Indonesia telah habiskan tubuh saya. Indonesia ambil isi dari tanah Papua. Engkau pakai kekayaan emas saya untuk sekolahkan ribuan anak-anakmu tapi saya tidak pernah minta engkau kembalikan.
Kini saya memegang kepala dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang Papua, anak-anak saya di mana-mana yang sudah buka hati, mata, dompet untuk bantu Anak Vero.
Untuk Anak Vero jangan mundur tetapi maju terus untuk membela harga diri saya, kami orang Papua. Anak Vero, kamu saya sudah isi di noken. Vero aiye… Doa Mama Yosepha.”
Markus Haluk, Direktur Eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP):
“Bangsa Papua punya harga diri. Veronica Koman telah mempertaruhkan harga dirinya untuk membela harga diri dan martabat bangsa Papua.
Di tengah situasi sulit, kita telah membuktikan selama satu bulan ini bahwa kita bisa berdiri bersama membela harga diri dan martabat Veronica Koman.
Persatuan dan solidaritas yang kita tunjukkan hari ini terus kita akan lakukan merebut kembali harga diri, martabat dan hak politik Bangsa Papua. Kami memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada semua yang telah turut bersolidaritas.”
Pastor John Bunai, Koordinator 57 Imam Pribumi Papua, Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP):
“Kami melihat dan merasakan betapa besar perhatian dan kasih Vero kepada orang Papua yang sedang menderita. Dalam situasi itu, Vero hadir, meringankan salib dan air mata kami dengan cara yang sangat mulia. Kami melihatnya sebagai malaikat putih yang diutus Tuhan hadir dalam pergumulan orang Papua.
Kami, 57 pastor pribumi, memberi sedikit persembahan kasih dari uang persembahan yang umat berikan kepada kami untuk Vero. Suara kasih Vero demi martabat orang Papua terlalu mahal dari sedikit pemberian kami. Vero, kau ada dalam noken mama-mama Papua, kau saudari kami. Kemarin, kini dan sampai nanti sejarah akan mencatatnya.”
Victor Mambor, jurnalis senior, Perkumpulan Jubi, penampung dana solidaritas dalam Papua:
“Sumbangan yang diterima di rekening pengumpulan dana bervariasi, mulai dari sepuluh ribu hingga puluhan juta rupiah.”
Ronny Kareni, aktivis, penggalang dana solidaritas internasional online di Australia:
“Veronica Koman adalah kami. Karakternya yang tangguh dalam mengekspos pelanggaran HAM yang brutal oleh negara Indonesia sangat dikagumi oleh banyak orang Papua. Ia adalah contoh bagi rakyat Indonesia yang lain dan pemerintahan Jokowi untuk belajar bagaimana caranya bersuara bagi yang ditindas.”
Narahubung:
Tim Solidaritas Ebamukai untuk Veronica Koman
Markus Haluk 085244442502
———————————————
PRESS RELEASE
West Papuan People Pay Financial Punishment Levied as an Attempt by Jakarta to Punish Veronica Koman for her Support
Jakarta / Jayapura, Sept. 16, 2020 -- The Ebamukai Solidarity Team for Veronica Koman has today repaid a scholarship withdrawn by the Indonesian Ministry of Finance, intended to punish Veronica for her human rights work in support of West Papua.
Ex political prisoners Ambrosius Mulait and Dano Tabuni and lawyer Michael Himan returned the scholarship funds in support of Veronica, along with an Indonesian flag, a copy of the West Papuan Special Autonomy Law, and a sum of one million rupiah in small notes, to the Ministry building in Jakarta. The latter two items constitute a symbolic handing-back to the Indonesian government of West Papua’s Special Autonomy status and funds, which is seen as a strategy to deny West Papuans’ right to self-determination.
Despite the Solidarity Team sending a meeting request to scholarship institution LPDP on Monday, they received no reply; instead the LPDP office presented a closed door to the Team today, forcing them to proceed to the main building of the Ministry of Finance. There security guards and police closed the gate and said there was no one left in the building. The team then proceeded to the Coordinating Legal, Political and Security Affairs Ministry and asked the scholarship money, flag, and the Special Autonomy law and funds to be delivered to the Minister who has been asking for the scholarship money since last November.
Once the news broke that the Indonesian government was financially punishing Veronica Koman with an order to pay an amount of IDR 773.876.918 (~ USD 52,000) to pressure her to return to Indonesia to face arrest, the people of West Papua immediately started fundraising efforts by setting up posts, collecting donations at markets and roadsides, and online. The fundraising continued despite police actions to forcibly disperse fundraisers in Nabire and Jayapura, West Papua.
Mama Yosepha Alomang, indigenous leader and winner of the 2001 Goldman Environmental Prize and the 1999 Yap Thiam Hien Award on human rights said in Jayapura:
“For 57 years Indonesia has taken from West Papua, consuming my body. You took my gold from the Nemangkawi (sacred mountain mined by Freeport) to send thousands of your children to school. I never asked you to return it. Now I touch my head and thank all West Papuan people, my children everywhere who have opened their hearts, eyes, and wallets to help Child Vero. For Child Vero, do not give up, keep fighting to defend my and West Papuan people’s dignity. Child Vero, I have put you in my ‘noken’. Vero aiye… My prayers with you.”
Markus Haluk, Executive Director of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) in West Papua:
“The West Papuan nation has dignity. Veronica Koman has sacrificed to defend West Papuan people’s dignity and pride. Amid the hardship, we have proven this month that we can stand together to defend her. We will keep our unity and solidarity that we show today until we reclaim the West Papuan nation’s dignity and political rights. We appreciate and thank everyone who has joined in solidarity.”
Pastor John Bunai, Coordinator of 57 Indigenous West Papuan Pastors, Coordinator of Papua Peace Network (Jaringan Damai Papua) said:
“We have seen and felt how much Vero cares and loves the people of West Papua who are suffering. In this situation, Vero is present, lightens our cross and tears in noble ways. We see her as a white angel sent by God to be among West Papuan people. We, the 57 indigenous pastors, give a little offering to Vero which were given by churchgoers to us. Vero’s voice full of love for the dignity of West Papuan people is worth more than our small contribution. Vero, you are in the noken of West Papuan mothers, you are our sister. Yesterday, the present and going forth into history will note this.”
Victor Mambor, senior journalist, Jubi Association, who collated fundraising monies said:
“The donations that we received varied in size, starting from ten thousand to tens of millions of rupiah.”
Ronny Kareni, West Papuan activist, who instituted an international online fundraiser from his home in Australia said:
“Veronica Koman is us. Her resilient character in exposing the truth about the Indonesian State’s atrocious human rights behaviour is deeply admired by many Papuans. Although it comes at a personal and professional cost, she is a living testament to the concerns held by many progressive Indonesians, and can teach Jokowi's administration how to be the voice of the voiceless people.”
Contact:
The Ebamukai Solidarity Team for Veronica Koman
Markus Haluk +6285244442502.


0 komentar:
Posting Komentar