Veronika Koman mengatakan dalam statusnya bahwa selama ini saya menahan diri untuk tidak terlalu bereaksi ketika mendengar ada yang membantu penggalangan sana sini, semata-mata karena tidak mau mendorong gerakan ini lebih jauh. Saya sadar bahwa keadaan saya masih jauh lebih beruntung dibanding rakyat Papua.
"Di sisi lain saya juga merasa tidak dalam posisi pantas untuk menghentikan, karena cukup banyak yang menyampaikan ke saya langsung bahwa ini juga soal harga diri Papua. Saya tidak pernah meremehkan rakyat Papua.
Meskipun bingung bagaimana melunaskan pembayaran, tapi sejak awal saya sudah bertekad tidak akan berhenti. Negara Indonesia mempersekusi saya habis-habisan sebagai peringatan kepada rakyat Indonesia yang lain dan hendak mendukung hak atas penentuan nasib sendiri Papua.
Untuk itu, saya tidak sudi kalah, lautan cercaan ‘pengkhianat’ dsb kadang bisa menyebabkan disorientasi. Ucapan solidaritas dari orang Papua itulah petunjuk jalan bagi saya. Bahwa jalan ini "masih" yang benar menurut rakyat, Kata Veronika Koman di statusnya belum lama ini.
Apalagi Lajut Koman, solidaritas yang luar biasa kali ini bukan sekadar kata-kata. Saya melihat luka sekaligus amarah pada tiap lembar dua-ribu lima-ribu yang dikumpul. Tiap lembar itu semakin menyatukan saya ke Papua dan Papua ke saya.
Camkan ini: dia mengatakan dengan tegas bahwa saya dibiayai kuliah oleh rakyat Papua, bukan oleh negara Indonesia. Untuk itu sisa hidupku semoga saya berguna bagi bangsa dan rakyat Papua, Pungkasnya.


Amin Semoga Tuhan Selalu Menyertai, memberkati, di setiap langkah hidupmu amin.
BalasHapus