ANIMASI KNPB MAKASSAR OLEH ANTONIUS S.BOMAIBO

<< KNPB MAKASSAR >> << KNPB MAKASSAR >>

PASCA PENEMBAKAN EXPO WAENA BERDARAH, SECARA MORAL: "REKTOR UNCEN JAYAPURA HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS TEWASNYA 3 MAHASISWA DAN 1 PELAJAR EXODUS PAPUA

Posted by MAJALAH LAWAN MALAS.COM on Selasa, 01 September 2020

Ilustrasinya 


JAYAPURA LAWAN MALAS.NEWS-Ketika kami Posko Umum Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua Se - Indonesia menduduki Auditorium Universitas Negeri Cenderawasj (UNCEN) Papua pada 23 September 2019, dimana bertujuan untuk melakukan negoisasi secara terbuka, demokrasi, dan bertanggung jawab bersama pihak Rektorat Uncen Jayapura

"Namun disaat masa aksi sudah menduduki Auditorium Uncen tersebut, malah masa Exodus dipukul mundur dengan pembubaran paksa oleh kehadiran Aparat Gabungan TNI - POLRI tanpa ada kehadiran Rektor Uncen untuk berbicara atau berdialok tatap muka secara langsung dengan kami masa Exodus yang hadir menduduki halaman Auditorium Uncen saat itu.

Lalu akhir dari kepulangan masa Exodus yang secara sengaja diantar oleh Aparat Gabungan TNI - POLRI ke Expo-Waena (Museum Uncen), malah berakhir dengan kekerasan fisik yang mengakibatkan 3 mahasiswa dan 1 pelajar Exodus meninggal akibat terkena tembak oleh peluru aparat, dan beberapa lainnya luka-luka parah. Sedangkan lainnya sempat melarikan diri, dan tidak kurang dari 100-an orang di tahan selama 2 hari 1 malam di Makobrimob Abepura. 

Secara spesifik yang perlu kami Exodus tegaskan adalah Rektor Uncen Dr. Apolo Safanpo, MT, dimana secara kemanusiaan kami menilai bahwa secara moral dan etik perguruan tinggi, seharusnya beliau bertanggung jawab atas tewasnya 3 mahasiswa dan 1 pelajar Exodus yang terjadi pasca penembakan tersebut. Sebab atas perintah dari 'mulutnya' kami 4 orang tewas di hari itu (Senin, 23 September 2019). 

MENGAPA DEMIKIAN? 

1).  Sebab jika seandainya Rektor Uncen menerima kami masa Exodus dengan baik, tanpa harus berneko-neko dengan Aparat Gabungan TNI - POLRI, maka tidak mungkin ada korban jiwa di hari itu. 

2).  Rektor semestinya paham baik soal masa Exodus akibat permasalahan RASISME SURABAYA, sehingga kampus yang merupakan habitat-ekologis mahasiswa tetap terbuka secara demokrasi. 

"Maka dengan menerima mahasiswa berekpresi di Uncen sebenarnya bijaksana dan tepat. Namun sungguh disayangkan, hal itu tidak terjadi. Rektor justru tidak menerima masa Exodus lalu meminta Aparat Gabungan TNI - POLRI membubarkan masa Exodus dari kampus secara paksa. 

3).  Kami masa Exodus duduki Uncen tidak mungkin langsung buat onar atau anarkis. Kami saat itu jelas menduduki halaman depan Auditoriun Uncen secara terbuka untuk melakukan negoisasi terkait penggunaan Auditorium Uncen sebagai Posko Umum Exodus. 

4).  Jika ada alasan terkait indikasi teriakan Papua Merdeka ( Fobia Referendum), Rektor dan Aparat Gabungan mestinya sadar bahwa dengan kehadiran kami Exodus tidak akan serta-merta membuat Papua langsung Merdeka atau Referendum terjadi saat itu. Jadi tidak ada alasan dan sangkut pautnya dengan Fobia tersebut. 

5). Seharusnya Rektor Uncen menerima kami masa Exodus sebagai anak dan bapak tanpa harus melakukan koordinasi dengan Aparat Gabungan. 

"Namun secara sepihak, malah mereka (Aparat) diundang dengan kelengkapan siaga satu untuk menghadapi kami masa Exodus dengan jumblah yang lebih dari jumblah kami saat itu.  

6). Dan perlakuan seperti ini, telah menunjukan bahwa Rektor Uncen tidak mampuh memimpin Uncen secara moral, fleksibelitas demokrasi, dan kepekaan sosial dalam menghadapi kami masa exodus. 

"Lalu begitu saja membungkam ruang berekspresi di Kampus Uncen secara demokrasi, yang sudah dijamin oleh konstitusi era reformasi ini. 

Demikian selebaran ini kami buat, kiranya kita Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua selaku korban rasisme Surabaya, dan seluruh masyarakat Papua tidak lupa bahwa pasca penembakan Exodus di Expo-Waena, Jayapura (23 September 2019) oleh Aparat Gabungan TNI-POLRI, adalah satu bagian peristiwa yang tidak lepas juga dari tidak-adanya moralalitas Rektor Uncen untuk bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. 


(Jayapura, 01 September 2020)


YERRI T.

(Ketua Posko Exodus Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Nduga Se - Indonesia) 

#LAWAN_RASISME🐒🙏✊✊✊✊

#ORANG_PAPUA_BUKAN_MONYET



Blog, Updated at: September 01, 2020

0 komentar:

Posting Komentar