
Ilustrasi
Oleh : Victor Yeimo
WEST PAPUA LAWANMALAS.NEWS- Walau 4 hari mogok, Freeport belum beri akses transportasi bagi buruh kunjungi keluarga di Timika. Begitulah watak dasar kapitalisme; yang bukan saja mengeksploitasi kemanusiaan buruh demi kejar keuntungan semata, tetapi juga membunuh warga sipil Demeriana, Uter dan Demu di Mile 69, Senin (17/08/2020) lalu demi keamanan operasinya.
Buruh adalah pemegang nyawa Freeport. Bukan sebaliknya. Karena Freeport itu drakula yang hanya bisa hidup dengan menghisap darah buruh Freeport yang sedang dipenjara di areal Tembagapura.
"Maka, buruh Freeport haruslah bersatu membangun kelas perlawanan melawan hegemoni kapitalis yang rekayasa isu Covid-19 untuk hentikan akses transportasi.
Tidak ada logika kemanusiaan bahwa Freeport larang buruh turun Timika kunjungi keluarga dengan alasan Covid-19, sementara buruh dipaksa bekerja dalam bahaya penyebaran Covid-19 di areal operasi Freeport?
"Ini wajah profit oriented Freeport yang anti kemanusiaan. Sama halnya Freeport melalui TNI/Polri ungsikan 1.582 warga kampung Banti, Waa, Kimbeli turun Timika pada Maret lalu untuk tujuan perluasaan areal Freeport yang saat ini sedang dilakukan.
Singkatnya, Freeport bunuh kemanusiaan Papua, ungsikan warga kampung di Tembagapura, larang buruh jenguk keluarga, meracuni dan membunuh habitat lingkungan, lalu menempatkan agen-agen kapitalis birokrat kolonial melancarkan hegemoni atau propaganda-propaganda kesejahteraan pembangunan.
"Inilah rantai penindasan yang hanya bisa dilawan dengan kesadaran-kesadaran dari kelas buruh, masyarakat adat hingga persatuan aliansi organisasi perlawanan rakyat di West Papua, Indonesia dan di seluruh dunia.
Maka, tuntutan perlawanan buruh Freeport, termasuk perlawanan 8.300 buruh yang diterlantarkan Freeport setelah bertahun-tahun menghisap tenaga kerjanya, juga tuntutan masyarakat adat korban penggusuran dan racun tailing, ditamba rakyat korban penembakan TNI/Polri, termasuk rakyat Mimika korban pemiskinan urutan pertama di Indonesia adalah bagian perjuangan pembebasan nasional West Papua.
Gerilyawan pemilik bumi Amungsa, Hengky Uamang memanggil semua melawan Freeport tanpa batas. "Kamu sedang ditipu tapi kamu tidak sadar bahwa kamu sedang ditipu" seru Hengky dalam seruannya sebelum dia ditembak mati militer penjajah.
"Kata-kata itu seperti ulasan Antonio Gramsci dalam teori hegemoni kelas berkuasa yang melahirkan kesadaran palsu kelas tertintas, yang mengamini ide-ide kapitalis.
Karenanya, buruh Freeport dan rakyat West Papua yang sementara terjajah haruslah memiliki kesadaran perjuangan melawan ide-ide kapitalis dan kolonial. Sadar bahwa perjuangan melawan eksploitasi kapitalis yang didukung kolonialisme di West Papua adalah perjuangan untuk membebaskan dirinya sendiri.
"Maka buruh Freeport harus membangun budaya kesadaran perjuangan melalui aksi-aksi pemogokan, blokade, hingga membangun organisasi buruh revolusioner.

0 komentar:
Posting Komentar